• Lokasi

JL. Kalimantan Nomor 113 Kota Blitar

  • No. Telp

(0342) 801118

  • WA Pengaduan

085755309497

  • Email

mardiwaluyo@blitarkota.go.id

SELAYANG PANDANG

RSUD Mardi Waluyo merupakan unit organisasi bersifat khusus yang menyelenggarakan pelayanan di bidang kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, gawat darurat dan pelayanan penunjang yang ditetapkan dengan Peraturan Walikota Blitar Nomor 27 Tahun 2022 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Dan Fungsi Unit Organisasi Bersifat Khusus Rumah Sakit Umum Daerah Mardi Waluyo Kota Blitar.
 

 

 

 

Informasi dan Layanan

JADWAL DOKTER

test
JADWAL DOKTER..

BERITA UTAMA

Oleh M. HARI PRISTANTININGTYAS Apt.               Beyond Use Date (BUD) adalah batas waktu penggunaan produk obat setelah diracik/ disiapkan atau setelah kemasan primernya dibuka/dirusak. Kemasan primer disini berarti kemasan yang langsung bersentuhan dengan bahan obat, seperti: botol, ampul, vial blister, dst.           Suatu sediaan farmasi dapat dikatakan stabil jika tetap memiliki karakteristik kimia, fisika, mikrobiologi, terapetik dan toksikologi yang tidak berubah sejak awal diproduksi hingga selama masa penyimpanan serta penggunaan. Stabilitas obat diharapkan terjamin tidak hanya pada saat penyerahan obat ke pasien atau tenaga kesehatan, namun hingga disimpan di rumah ataupun di ruang rawat inap serta digunakan oleh pasien           Pemberian informasi kepada pasien dan tenaga kesehatan mengenai cara penyimpanan dan batas waktu pengunaan obat setelah kemasan dibuka merupakan salah satu tanggung jawab tenaga kefarmasian yang penting untuk diketahui.           Perlu dibedakan pengertian Beyond Use Date (BUD) dan masa kadaluwarsa obat (ED). Meskipun kedua hal tersebut dapat digunakan untuk menentukan batasan waktu dimana suatu produk obat masih berada dalam keadaan stabil. Perbedaan kedua pengertian diatas dapat dijelaskan sebagai berikut : NO PERBEDAAN BUD ED 1 Batas waktu penggunaan produk obat setelah diracik/disiapkan atau setelah kemasan primernya dibula/dirusak Batas waktu penggunaan produk obat setelah diproduksi oleh pabrik farmasi, sebelum kemasannya dibuka 2 BUD tidak selalu dicantumkan dikemasan ED selalu dicantumkan di kemasan             Dibeberapa Negara seperti Amerika dan Inggris, BUD merupakan sebuah keharusan untuk dicantumkan pada etiket wadah obat. Di Indonesia regulasi tentang pencantuman BUD pada etiket wadah obat belum ada, namun informasi tentang BUD ini perlu disampaikan mengingat ada beberapa obat tidak boleh digunakan kembali setelah kemasannya dibuka akibat ketidakstabilannya.           Penetapan BUD menurut The U.S Pharmocopeia (USP) diterangkan sebagai berikut : 1. PENETAPAN BUD Obat Nonsteril Produk Obat Pabrik Bentuk Sediaan Padat Produk obat pabrik bentuk sediaan padat yang membutuhkan BUD misalnya produk  , contohnya : CTM kemasan 1000 tablet dikemas ulang dalam wadah yang lebih sedikit dalam masing-masing wadah barunya Langkah-langkah menentukan BUD Mencari informasi BUD dari pabrik obat yang bersangkurtan Jika informasi dari pabrik tidak tersedia, gunakan pedoman umum dari USP : Cek ED dari pabrik yang tertera pada kemasan asli Jika ED <1 tahun, BuD maksimal = ED Pabrik; Jika ED>1tahun, BUD maksimal =1 tahun Bentuk sediaan semipadat Contoh sediaan semipadat adalah salep, krim, lotion, gel dan pasta Langkah-langkah penetapan BUD : 1. Mencari informasi BUD dari pabrik obat yang bersangkutan 2. Jika informasi dari pabrik tidak tersedia, gunakan pedoman umum dari USP: Cek ED dari pabrik yang tertera pada kemasan asli Jika ED <1 tahun, BUD maksimal = ED Pabrik; Jika ED>1tahun, BUD maksimal =1 tahun Bentuk sediaan cair Untuk produk obat yang harus diirekonstitusi sebelum digunakan, informasi BUD ditetapkan berdasarkan informasi yang tertera pada kemasan asli obat Untuk produk obat yang nonrekonstitusi (termasuk produk repacking),langkah-langkah penetapan BUD : 1. Mencari informasi BUD dari pabrik obat yang bersangkutan 2. Jika informasi dari pabrik tidak tersedia, gunakan pedoman umum dari USP: Cek ED dari pabrik yang tertera pada kemasan asli Jika ED <1 tahun, BUD maksimal = ED Pabrik; Jika ED>1tahun, BUD maksimal =1 tahun B. Obat racikan Beyond Use Date obat racikan terhitung sejak tanggal peracikan. Ketika akan menetapkan BUD, harus dipertimbangkan ED semua obat yang dicampurkan dalm formulasi. Obat racikan ini tentunya akan memiliki BUD yang lebih singkat daripada ED masing-masing bahan dalam formulasi. Jika dalam satu racikan terdapat lebih dari satu macam obat, gunakan BUD yang paling singkat Langkah-langkah dalam menetapkan BUD obat racikan adalah : Gunakan informasi BUD berdasarkan penelitian spesifik pada obat racikan yang bersangkutan Jika tidak tersedia penelitian spesifik, maka carilah informasi penetapan BUD dari pabrik masing-masing obat yang digunakan dalam racikan (pilih BUD yang paling singkat) Jika tidak tersedia informasi dari pabrik, maka carilah informasi stabilitas dari buku referensi atau literature primer. Jika informasi stabilitas dari buku referensi maupun literature primer tidak cukup memadai, maka kita dapat menggunakan petunjuk umum penetapan BUD untuk obat racikan berdasarkan USP, yaitu sebagai berikut : Jenis Formulasi Informasi Beyond Use Date Formulasi oral yang mengandung air (water containing oral formulation), seperti : suspensi oral, emulsi oral, syrup BUD tidak lebih dari 14 hari jika disimpan pada suhu dingin yang terkontrol Formulasi cair atau semipadat topical/dermal/mucosal yang mengandung air (water containing topical/dermal/mucosal liquid or semisolid formulation) seperti : salep, krim, gel, pasta) BUD tidak lebih dari 30 hari Formulasi yang tidak mengandung air (nonaqueous formulation) seperti puyer atau kapsul BUD tidak lebih dari 25% waktu yang tersisa dari masing-masing obat hingga kadaluwarsa atau 6 bulan dipilih yang lebih singka Contoh Obat merk X diracik pada bulan Desember 2013. ED obat yaitu Desember 2013, maka perhitungan BUD adalah : =25% x 12 bulan =3 bulan (< 6 bulan) BUD maksimal 3 bulan     2. Penetapan Beyond Use Date produk Steril     Produk steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang termasuk dalam bentuk sediaan ini antara lain sediaan parentral, preparat untuk mata dan preparat irigasi (misalnya infus)     Pada saat produk steril dibuka terjadi paparan dengan lingkungan di sekitarnya. Udara, uap air dan mikroorganisme dapat masuk dan menyebabkan perubahan fisika dan kimia, serta kontaminasi mikroorganisme. Perubahan fisika dan kimia dipercepat oleh meningkatnya suhu, sedangkan kontaminasi mikroorganisme dapat menyebabkan penularan penyakit infeksi. US Pharmacopeia mengelompokkan tingkat risiko kontaminasi produk steril menjadi 5 yaitu : Segera digunakan Pemberian injeksi dilakuakn dalam waktu 1 jam sesudah penyiapan/pencampuran sediaan injeksi Rendah Penyiapan sediaan injeksi dilakukan di laminar Air Flow Workbench (LAFW) atau Biological Safety Cabinet (BSC) yang memenuhi persyaratan partikel dan mikroba ISO Class 5 dan tahapan pencampurannya sedikit Rendah dan diberikan dalam waktu ≤ 12 jam BUD Penyiapan injeksi dilakukan di Ruang ISO Class 5, tahapan pencampurannya sedikit dan diberikan dalam waktu ≤12 jam BUD Sedang Penyiapan sediaan injeksi dilakukan di Ruang ISO Class 5 dan tahapan pencampurannya banyak; atau produk steril digunakan untuk lebih dari satu pasien; atau produk steril digunakan untuk satu pasien namun beberapa kali penggunaan Tinggi Penyiapan sediaan injeksi dengan bahan obat yang tidak steril; atau penyiapan sediaan steril dengan bahan obat steril namun tidak dilakukan di Ruang ISO Class 5; atau waktu/saat sterilisasi sediaan injeksi dilakukan > 6 jam waktu penyiapan/pencampuran   Berdasarkan tingkat risiko kontaminasi tersebut diatas, maka USP memberikan table cara penghitungan BUD sediaan steril adalah sebagai berikut : Suhu Penyimpanan Waktu Kadaluwarsa (Beyond Use Date) Risiko Kontaminasi rendah Risiko Kontaminasi sedang Risiko Kontaminasi tinggi Suhu kamar (<25°C) 48 Jam 30 Jam 24 jam Kulkas (2-8 °C) 14 hari 9 hari 3 hari Suhu Beku (≤-10°C) 45 hari        Melalui pemaparan tentang BUD berbagai produk obat tersebut, apoteker sebagai tenaga kesehatan professional yang bertanggung jawab memberikan produk obat yang berkualitas kepada pasien, diharapkan dapat mulai memperhatikan pentingnya BUD dan menerapkan pengetahuan ini ketika menyimpan, memberikan serta menggunakam produk obat dalam praktek sehari-hari.      Dan bagi masyarakat sebagai pengguna produk obat juga mulai memperhatikan pentingnya mengetahui BUD berbagai produk obat untuk diperhatikan dalam menyimpan dan menggunakan produk obat tersebut. Biasakan untuk menanyakan tentang batas waktu penggunaan obat kepada Apoteker yang memberikan produk obat kepada anda      Semoga tulisan ini dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas kapan kita memperhatikan ED (tanggal kadaluwarsa) dan BUD (waktu penggunaan produk obat setelah dibuka) sehingga produk obat yang kita gunakan tetap terjaga kualitas dan efektivitasnya.                            
Pada hari Senin, 25 September 2023 bertempat di Gedung Kesenian Kota Blitar diselenggarakan kegiatan Penyerahan Penghargaan SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) Tahun 2023 (SAKIP AWARD). Turut hadir Wali Kota Blitar, Drs. H. Santoso, M.Pd, Wakil Wali Kota Blitar, Ir. Tjutjuk Sunario, M.M dan Sekda Kota Blitar, Drs. Priyo Suhartono, M.Si. RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar memperoleh Penghargaan SAKIP AWARD 2023 dengan predikat A (Memuaskan) yang diserahkan langsung oleh Sekda Kota Blitar, Drs. Priyo Suhartono, M.Si. Terima kasih atas dukungan dan kerjasama seluruh ASN di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Terima kasih pula disampaikan atas dedikasi dan kerja keras, kerja cerdas serta ikhlasnya demi mewujudkan Blitar Keren.
Selasa, 27 September 2022, bertempat di Ruang Komite Medik RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar, dilaksanakan acara Peningkatan Kapasitas Jejaring Internal Tuberkulosis Di Rumah Sakit. Hadir sebagai narasumber kegiatan ini, dr David Alvianto, Sp.P, Dokter Spesialis Paru RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar sekaligus Ketua Pokja Prognas TB. Acara ini diikuti oleh 38 orang tenaga kesehatan yang berasal dari Kepala Ruang, Kepala Tim, Kepala SMF serta anggota Pokja Prognas TB yang ada di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Peningkatan Kapasitas Jejaring Internal Tuberkulosis Di Rumah Sakit  di buka pada pukul 10.00 WIB oleh dr David Alvianto, Sp.P,. Dalam acara yang berlangsung hingga pukul 13.30 WIB tersebut, para peserta antusias mengikuti secara aktif seluruh rangkaian acara. Sesi tanya jawab berlangsung dengan atraktif. dr David Alvianto, Sp.P., menyampaikan materi terkait kesiapan masing masing unit terkait dalam menerapkan PNPK tata laksana TB. Mulai dari alur koordinasi dan komunikasi antar unit pelayanan langsung terkait, penunjukan penanggung jawab jejaring kerja dari masing-masing unit serta kebijakan dari pihak manajemen untuk mendukung kelancaran pelayanan, maupun dukungan sarana prasarana guna optimalisasi pelaksanaan jejaring internal. Dalam acara tersebut juga disampaikan materi peningkatan kapasitas jejaring internal TBC dengan tatalaksana kasus TBC mulai dari TBC anak hingga dewasa , TBC SO maupun TBC RO serta penatalaksanaan pemberian TPT. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan kedepannya rumah sakit lebih optimal lagi dalam penatalaksanaan kasus TBC sesuai dengan standar Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 Tahun 2016 Tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Sehingga tidak ada lagi ketidaktahuan petugas dalam tatalaksana TB yang sesuai standar mulai dari penegakan diagnosa, pengobatan, follow up hingga akhir pengobatan Melalui kegiatan ini, RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar berupaya turut serta mensukseskan Program Pengendalian TB dalam strategi nasional. RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar terus bergerak secara aktif meningkatkan layanan TB yang berkualitas bagi pengguna layanan. (hum)

Berita Terbaru

Galeri Kegiatan

Instagram

Video Kegiatan

...
09 Jan 2024 / by Administrator
Lihat Lainnya

Portal Layanan