x

Primary tabs

Dikirim oleh adminmardiwaluyo pada 5 May 2020

     Rumah Sakit Daerah Mardi Waluyo Kota Blitar kondisi saat ini, dalam kurun waktu lima tahun terakhir,  mengalami metamorfosis yang hebat. Hal tersebut tidak berlebihan diungkapkan jika dirunut bagaimana sejarah keberadaannya mulai tahun 1942. Pada jaman revolusi tersebut, pelayanan hanya untuk pasien yang akan operasi, yang dilayani dua dokter berkebangsaan Belanda yang datangnya tidak menentu, dr. SHINKO dan dr. KARL BOOM.

     Pasca kemerdekaan, tahun 1949, baru memiliki dua dokter tetap, dr. TEDJO sebagai Kepala Rumah Sakit dan dr. TRISULA sebagai Kepala Dinas Kesehatan. Saat TBC mewabah di Blitar tahun 1958, dr. TRISULA sebagai dokter spesialis paru, mendirikan pusat pendidikan “Ngrukti Nirmala” bagi pasien TBC. Di lembaga ini, pasien TBC dikumpulkan dan diberi penyuluhan tentang TBC dan Gizi.

     Tahun 1966, ada tambahan satu dokter, dr. AW SOEHAPTO, yang dalam masa-masa pengabdiannya melakukan empat pengembangan pelayanan: Pertama, pemeriksaan dan tes kehamilan dengan metode Galili Manini, menggunakan kodok jantan dengan cara memencet bagian punggung, kalau berbunyi KOOOK, maka kodok tersebut jantan. Kedua, melakukan operasi kecil dan operasi caesar dengan peralatan seadanya, berhasil baik dan dilaporkan ke Kantor Inspeksi Kesehatan di Jakarta. Laporan itu direspon baik dengan mengirimkan peralatan operasi seperti meja dan lampu operasi ke Kota Blitar. Ketiga dan keempat, membuka pelayanan poliklinik umum dan poliklinik gigi.

     Tahun 1975, menjalin hubungan dengan dokter spesialis dari Surabaya dan Malang, yang dua kali seminggu datang ke Blitar memberikan bimbingan kepada dokter-dokter umum. Hingga tahun 1996, berhasil merangkul empat dokter spesialis tetap di Rumah Sakit Mardi Waluyo/ yaitu spesialis anak dr. IBNU SUSANTO, Sp.A, spesialis bedah dr. ANDRY MANNARY, Sp.B, spesialis penyakit dalam dr. JIMMY PELEALU, Sp.PD, dan spesialis kandungan dr. SYAIFULLOH, Sp.OG