x
Dikirim oleh adminmardiwaluyo pada 4 July 2020

KENAPA PENDENGARAN BISA TERGANGGU?

OLEH : Dr.ERIE TRIJONO,Sp.THT

Gangguan pendengaran merupakan suatu permasalahan yang dapat terjadi pada setiap umur dan menyebabkan seseorang sulit berkomunikasi verbal. Gangguan indapadikategorikan  sebagai  gangguan pendengaran konduktif, sensorineural maupun keduanya. Salah satu penyebab utama gangguan pendengaran konduktif adalah serumen obsturan (artinya kotoran yang membuntu saluran / lubang telinga bagian luar) Serumen merupakan kotoran telinga yang fisiologi pada liang/ lubangtelinga luar. Serumen obsturan akan menimbulkan penurunan pendengaran jika produksinya banyak dan menumpuk sehingga membuntu lubang telinga luar. Di Indonesia gangguan fungsi pendengaran   saat ini masih merupakan salah satu masalah yang dihadapi  masyarakatPenyerapan  informasi  melalui  mendengar adalah sebesar 20%, lebih besar dibanding melalui membaca yang hanya menyerap 10% informasi. Anak-anak sekolah dasar dengan penurunan pendengaran dapat mengakibatkan penurunan indeks prestasi belajar.

Penurunan  pendengaran  yang  disebabkan  oleh  serumen  obsturan akan menimbulkan gangguan fungsi pendengaran. Serumen obsturan atau kotoran telinga adalah produk kelenjar sebasea dan apokrin yang  ada  pada  kulilubang  telinga  luar,  yang  dalam  kondisi menumpuk dan keras. Pengerasan serumen atau kotoran telinga ini lebih sering terjadi pada anak-anak, orang dewasa dan remaja. Sebenarnya fungsi utama serumen ini adalah untuk menghalangi serangga kecil yang masuk kedalam telinga kita, namun serumen tidak bersifat anti jamur dan anti bakteri.

Di Indonesia, adanya sumbatan kotoran telinga atau serumen obsturan merupakan penyebab utama dari gangguan pendengaran pada sekitar 9,6 juta orang. Berdasarkan survei cepat yang dilakukan di beberapa sekolah di enam kota di Indonesia, prevalensi serumen obsturan pada anak sekolah cukup tinggi, yaitu antara 30-50%.

Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  indeks  prestasi  belajar anak yang tidak ada serumen obsturan di lubang telinganya lebih tinggi dibandingkan dengan indeks prestasi belajar anak yang ada serumen obsturan di lubang telinganya. Adanya serumen obsturan dengan indeks prestasi belajar bernilai P=0,001 (p<0,05) disimpulkan : Terdapat  pengaruh  yang  bermakna  antara  adanya  serumen obsturan dengan indeks prestasi belajar pada anak usia 7-12 tahun. Insidensi/  angka  kejadian  serumen  obsturan  sebanyak  72% (72   pasien)   dari   100   pasien   yang   datang   ke   Poli   THT, dengan   distribusi   jenis   kelamin serumen   obsturan   sebanyak 23  (69,7%)  pasien  laki-laki  dan  49  (73,1%)  pasien  perempuan. Pasien anak-anak sebanyak 43 % dari 72 total pasien tersebut. Insidens yang  cukup tinggi tersebut menunjukkan masalah yang cukup serius terkait serumen pada  penduduk yang menerima perawatan kesehatan primer. Serumen obsturan mempunyai prevalensi yang cukup tinggi dan bisa mengenai semua umur. Kejadian ini merupakan salah satu kejadian terbanyak di poliklinik THT RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar.

Ada beberapa akibat yang ditimbulkan oleh serumen obsturan yaitu pendengaran berkurang, dan jika daun telinga ditarik maka suara yang kita dengarkan akan lebih jelas dan ada kalanya telinga berdengung, ini bisa menjadi tanda adanya serumen obsturan. Kemudian adanya rasa nyeri bila serumen obsturan menekan telinga, begitu juga jika dilihat secara visual atau kasat mata terlihat adanya gundukan  hitam  dalam  lubang  telinga,  namun  harus  dicek  juga apakah kotorannya keras atau lunak.

Komplikasi yang terjadi akibat serumen obsturan bila tidak dibersihkan oleh Dokter Specialis THT yaitu :

  1. Komplikasi pertama yang sering terjadi adalah Infeksi pada luar lubang telinga (otititis eksterna) :

Ini karena kebiasaan suka meng-korek korek telinga sendiri dengan cotton bud, lidi, bulu ayam, ujung kunci, dll. Memang bila dikorek-korek sendiri, rasanya geli-geli enak. Tapi bila terlalu menekan atau terlalu dalam malah berbahaya. Sering terjadi: waktu bersihkan telinga dengan cotton bud, terus anaknya menyenggol tangan pasien, sehingga cotton bud tersebut terdorong keras ke dalam dan merobek gendang telinga. Gendang telinga setipis kertas HVS, bila tersentuh bunyi kemresek, dan terkena ujung benda terlalu keras ke dalam bisa robek gendang telinganya, saat robek gendang telinganya juga bisa mengeluarkan darah.

Pernah juga ada pasien  anak yang robek gendang telinganya, karena telinganya di korek mendadak oleh temannya dengan ranting pohon, maunya bercanda, tapi akhirnya kebablasan sehingga gendang telinganya robek. Juga hati-hati bila membersihkan telinga menggunakan besi pengait yang banyak dijual bebas di toko, ujung besi itu juga bisa merobek gendang telinga yang setipis kertas HVS.

Pembersihan kotoran di telinga bisa dilakukan setiap 3 bulan sekali ke THT. Apabila waktu mandi dan telinga kemasukan air sehingga tidak bisa mendengar, itu tandanya ada kotoran di telinga. Sebab kotoran sifatnya menyerap air. Bila ada air masuk dan mengenai kotoran, kotoran akan menyerap air, lalu kotoran mengembang, membuntu telinga dan menyebabkan pendengaran terganggu. Sering juga  pasien yang memiliki kebiasaan mengorek-korek telinga dengan cotton bud, malah mendorong kotoran masuk ke dalam lubang telinga dan makin tidak mendengar.

  1. Komplikasi kedua adalah Jejas/ cacad pada liang/lubang telinga luar/ meatus akustikus eksterna :

Lubang telinga luar yang sering di korek-korek dapat membuat kulitnya menebal setelah proses infeksi. Akibatnya lubang telinga mengecil sehingga mengganggu pendengaran. Mengecilnya lubang telinga tersebut dapat bersifat permanen/ menetap, artinya tidak bisa kembali normal besar lubang telinganya, dan tidak bisa mendengar lagi 100%.

 

  1. Komplikasi ketiga adalah Infeksi telinga tengah sampai ke otak :

Bila gendang telinga yang sudah robek tidak cepat ber obat ke THT, akhirnya terjadi penyakit yang namanya kopokan, artinya sering keluar nanah dari dalam lubang telinganya. Kopokan yang tidak diobati dengan baik, nanah yang menumpuk lama di dalam telinga bagian tengah itu akan merusak 3 (tiga) tulang tulang kecil pendengaran, yang akan menyebabkan kerusakan system pendengaran secara permanen/ tuli.

Bila kopokan tetap tidak diobati secara tuntas, infeksi dari nanah yang makin menumpuk dapat menjalar masuk ke otak, dan dapat mengakibatkan :

1. Kejang-kejang akibat meningitis/ infeksi selaput otak.

2. Kelumpuhan saraf wajah seperti orang yang terkena stroke dengan gejala :

a. Muka merot/ menceng,

b. Bila tutup mata, mata yang satunya tidak bisa menutup rapat, dan

c. Bila mengernyitkan dahi, dahi sampingnya tidak bisa di kernyitkan.

Gejala muka mencong, tidak bisa tutup mata dan tidak bisa mengernyitkan dahi tersebut  bersifat permanen/ menetap karena saraf wajah dari belakang telinganya terkena kikisan nanah yang mengendap disitu. Nanah yang menumpuk lama di dalam rongga tertutup mastoid/ telinga bagian tengah, akan menghasilkan enzim kholesterin yang bisa mengikis saraf, melubangi lapisan tipis tulang otak dekat telinga sampai menembus selaput otak. Jadi meskipun sudah diobati tuntas, karena sudah parah dan terlambat datang ke THT, hasil pengobatan tiga gejala tersebut tidak bisa kembali normal. Tapi pasien dapat hidup lebih lama lagi, karena pengobatan THT bertujuan safing life/ menyelamatkan jiwa pasien, bila memungkinkan dapat diperbaiki sistem pendengarannya tergantung kondisi penyakit kopokan telinganya.

Kesimpulannya :

  1. Membersihkan kotoran harus lebih berhati-hati, karena bila ceroboh dapat mengakibatkan robeknya gendang telinga, selanjutnya bisa terjadi penyakit kopokan sampai dengan gejala mirip stroke, sampai kejang-kejang akibat infeksi selaput otak.
  2. Lebih baik serahkan pembersihan kotoran telinga ke Dokter THT saja rutin setiap 3 (tiga) bulan sekali.

Semoga  info  ini  bermanfaat  barokah  bagi  kita  semua,  dan para pendengar semua tetap sehat selalu fungsi pendengarannya sesuai dengan ridhoNya. Aamiin.